WORKSHOP KURIKULUM SMK PUSAT KEUNGGULAN

WORKSHOP KURIKULUM SEMESTER GENAP

KURIKULUM SMK PUSAT KEUNGGULAN

TAHUN PELAJARAN 2021/2022

07 – 10 DESEMBER 2021

Mengakhiri Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2021-2022, sekolah mengadakan workshop kurikulum untuk implementasi kurikulum SMK PK dalam menyambut datangnya semester genap tahun pelajaran 2021-2022. Workshop kurikulum ini diikuti oleh semua guru dan untuk meteri GSM diikuti oleh semua warga sekolah. Workshop berlangsung selama 4 hari, dari tanggal 07-10 Desember 2021.

A. PEMBUKAAN

Acara di awali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya selanjutnya dengan di pandu oleh MC acara dilanjutkan dengan pemberian salam penghormatan bagi hadirin yang hadir serta ucapan terimakasih atas kehadiran peserta undangan, nara sumber dalam kegiatan tersebut. Kemudian sebelum kegiatan  di mulai dengan doa yang dipimpin oleh Bapak Muhammad Samsul Arifin, S.Pd

B. SAMBUTAN-SAMBUTAN

Sambutan yang dipertama di sampaikan oleh Kepala SMK Negeri 1 Probolinggo yaitu Ibu Dwi Anggraeni, S.Pd, M.Pd. Dalam sambutannya Kepala Sekolah menyampaikan ucapan terima kasih kepada Nara sumber,  dan Bapak/Ibu guru SMK Negeri 1 Probolinggo sebagai yang telah berkenan hadir baik sebagai nara sumber dan peserta  workshop kurikulum semester genap SMK PK. Kepala Sekolah juga menyampaikan tujuan dari kegiatan workshop  yaitu bertujuan untuk membekali kepada Bapak/Ibu guru khususnya Bapak/Ibu guru SMK Negeri 1 Probolinggo tentang SMK PK dan bagaimana seharusnya SMK Negeri 1 Probolinggo yang telah di tunjuk sebagai SMK Pusat Keunggulan dalam proses pembelajarannya. secara pengetahuan dalam bentuk teori dan implementasi Proses pembelajaran dalam SMK PK, oleh karena itu pada kegiatan tersebut sengaja  mengundang Ibu Dr. Cucu Sutianah, S.Pd, M.Pd salah satu dosen Universitas Siliwangi dan Bapak Drs. Agus Sunyoto, M.Pd sebagai narasumber agar SMK Negeri 1 Probolinggo mampu mengimplementasikan program SMK PK sesuai dengan harapan . Dan selanjutnya Kepala Sekolah berharap kepada Bapak/Ibu guru untuk selalu siap menghadapi tantangan dan selalu update dalam hal teknologi sehingga dapat menunjang proses KBM.  Tidak banyak hal yang disampaikan oleh Kepala Sekolah dengan maksud agar waktu lebih banyak untuk kegiatan workshop.

Sambutan yang kedua disampaikan oleh pengawas Pembina sekolah yaitu Bapak Drs. Agus Sunyoto, M.Pd. Dalam sambutannya Pengawas menyampaikan bahwa jika ingin punya peserta didik yang berubah maka guru harus mau berubah terlebih dahulu mengingat guru adalah pelaku perubahan di dunia pendidikan. Sehingga dengan kegiatan  workshop hari ini dengan menghadirkan nara sumber menurut Bapak Agus  merupakan  sesuatu keputusan  yang tepat. Dan beliau juga berharap workshop  saat ini semoga akan segera nampak perubahan-perubahan yang lebih baik dalam proses pembelajaran baik dalam segi metode, model dan strategi dalam pembelajaran.

C. PENYAMPAIAN MATERI WORKSHOP

  • HARI PERTAMA ( 7 Desember 2021 )

Hari pertama, workshop diisi materi tentang peta jalan dan strategi peningkatan mutu SMK PK oleh  pemateri Ibu Dr. Cucu Sutianah, S.Pd, M.Pd.. Di awal presentasi beliau menyampaikan bahwa Program pengembangan SMK dengan kompetensi keahlian tertentu dalam peningkatan kualitas dan kinerja, yang diperkuat melalui kemitraan dan penyelarasan dengan dunia usaha, dunia industri, dan dunia kerja. Untuk mewujudkan harapan ini maka perlu di buat peta jalan ( roots map) agar dalam proses pemenuhan program-program dalam SMK PK dapat terarah sesuai dengan  peta jalan yang sudah di buat. Jadi program SMK PK yang sudah disetujui bersama itu merupakan terjemahan dari peta jalan yang sudah di buat. Selanjutnya Ibu Cucu juga menyampaikan bahwa peta jalan pendidikan Indonesia sangatlah penting untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dalam rangka  merancang masa depan masyarakat Indonesia khususnya sekolah menengah kejuruan ( SMK ) sesuai dengan amanah dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 3 yang menyebutkan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistim pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang undang dan UU No. 20 tahun 2003 pasal 3. Dengan terselenggaranya workshop ini diharapkan:

  1. Adanya penyempurnaan peta jalan pendidikan Indonesia, khususnya dalam penyelenggaraan pendidikan  di SMK Negeri 1 Probolinggo
  2. Adanya alternatif strategi peningkatan mutu di SMK Negeri 1 Probolinggo
  3. Adanya pola alternative kurikulum yang sesuai dengan kondisi di SMK Negeri 1 Probolinggo

Kemudian Ibu Cucu memaparkan informasi tentang transformasi pengembangan SMK yang di awali dengan kegiatan revitalisasi SMK tahun 2019 kemudian dilanjutkan dengan SMK Center of Excellent ( CEO ) tahun 2020 sampai tahun 2021 dengan program pengembangan SMK Pusat Keunggulan ( PK) dan salah satu SMK terpilih sebagai SMK PK yaitu SMK Negeri 1 Probolinggo.

Mengenai peta jalan Ibu Cucu menyampaikan bahwa terdapat landasan hukum tentang peta jalan SMK yaitu:

  1. Instruksi presiden no. 9 tahun 2016 tentang revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan dalam rangka peningkatan kualitas dan sumber daya manusia, menginstruksikan menteri pendidikan dan kebudayaan untuk menyusun  peta jalan pengembangan SMK.
  2. Instruksi tersebut sebagai salah satu acuan Direktorat SMK dalam merealisasikan inpres melalui penerbitan pedoman penyusunan peta jalan pendidikan SMK yang di kemas sedemikian rupa sehingga menjadi acuan yang fleksibel, efektif dan efisien bagi SMK dalam menyusun rancangan peningkatan dan pengembangan sekolah.

Berikut adalah langkah pengembangan SMK oleh sekolah yaitu:

  1. Pembentukan tim pokja/ tim pengembangan sekolah yang terdiri dari wakil kepala sekolah, kepala program keahlian dan pihak lain yang relevan
  2. Penyusunan draft peta jalan pengembangan SMK dengan menggunakan format yang ditetapkan oleh Direktorat
  3. Pengayaan draft peta jalan pengembangan SMK melalui FGD dengan mengundang nara sumber dan pihak lain yang relevan
  4. Penyempurnaan draft peta jalan pengembangan SMK berdasarkan masukan dari hasil FGD
  5. Penetapan peta jalan pengembangan SMK oleh Kepala Sekolah dan pengesahan oleh pihak terkait.
  6. Sosialisasi peta jalan pengembangan SMK kepada warga sekolah dan pihak terkait.

Dan dari hasil analisa menurut Ibu Cucu  SMK Negeri 1 Probolinggo sudah melakukan semua langkah langkah tersebut.

Setelah menyampaikan langkah langkah pengembangan SMK Ibu Cucu menyampaikan informasi tentang ukuran lulusan SMK. Menurut Ibu Cucu ada beberapa tolak ukur lulusan SMK antara lain:

  1. Kompetensi lulusan SMK, khususnya ketrampilan lulusan  sesuai dengan standar industry
  2. Keterserapan ke dalam dunia kerja
  3. Kemampuan soft skill dan adaptasi menghadapi setiap tantangan perubahan.

Kemudian berbagai masalah muncul dari sudut tenaga pendidik di SMK antara lain:

  1. Kesenjangan kompetensi guru, dan guru tidak memiliki sertifikat profesi kejuruan
  2. Guru belum memiliki pengalaman kerja di industry
  3. Mindset dan motivasi guru dalam mengajar praktik masih belum sesuai dengan pola industry
  4. Guru sebaiknya magang yang di lakukan secara massif dan tidak sedikit sedikit
  5. Guru harusnya di dorong untuk membuat proyek terlebih dahulu yang nantinya akan di kerjakan oleh siswa

Demikianlah rangkaian cuplikan materi yang disampaikan oleh Dr. Cucu Sutianah, S.Pd, M.Pd, tentang peta jalan pengembangan pendidikan SMK. Mengenai rangkaian materi secara detail dapat di baca dalam handout yang di lampirkan bersama notulen ini.

  • HARI KEDUA ( 8 Desember 2021 )

Di hari kedua kegiatan workshop diisi materi tentang model pembelajaran project based learning ( PBL ) dengan nara sumber Bapak Drs. Agus Sunyoto, M.Pd. dalam paparannya Bapak Agus Sunyoto menyampaikan bahwa pembelajaran project based learning menjadi keharusan dalam kegiatan pembelajaran di SMK PK termasuk SMK Negeri 1 Probolinggo yang telah ditunjuk sebagai sekolah pusat keunggulan. Untuk menyikapi hal ini menurut Bapak Agus bahwa Bapak/Ibu sebagai pelaku pendidikan sekaligus sebagai agen transformasi dan perubahan selayakanya untuk segera move on dari model pembelajaran lama dan segera beralih ke model pembelajaran project based learning ( PBL ). Seperti kita ketahui bersama bahwa pembelajaran project based learning ( PBL ) adalah metode pembelajaran dengan menggunakan proyek/kegiatan  sebagai medianya. Di dalam model PBL ini melibatkan siswa dalam proses pembelajarannya dengan demikian diharapkan ada pengetahuan yang lebih mendalam pada diri siswa dan itu dilakukan secara berulang ulang. Selanjutnya Bapak Agus memaparkan bagaimana menggunakan model PBL dalam proses pembelajaran dalam istilah Gold standar PBL sebagai berikut:

  1. Student learning goals:
  2. Content standard
  3. Application
  4. 21st century skills
  5. Essential project design element
  6. Engaging problem/driving question
  7. Real word application
  8. Student voice
  9. Reflection
  10. Critique/revision
  11. Public product
  12. Project based teaching practice
  13. Manage the activities
  14. Scaffold student learning
  15. Assess student learning
  16. Engage & coach

Beberapa keuntungan menggunakan model PBL dalam pembelajaran adalah:

  1. Increase student engagement ( keterlibatan siswa dalam pembelajaran meningkat)
  2. Deeper knowledge ( pengetahuan lebih luas )
  3. Knowledge retention ( kemampuan menerima/menangkap informasi dalam waktu yang lama dan informasi tersebut melekat kuat dalam memori sehingga pandai mengambil keputusan dan memecahkan masalah secara cerdas
  4. Develop 21st century workforce skill ( mengembangkan kompetensi kerja abad 21)
  5. Real word application ( penerapan yang nyata )

Seperti halnya di sampaikan oleh ahli yang bernama marchitello&willhelm, 2014 that this finding indicates that PBL could be en effective instructional tool to narrow the achievement gap for low-performing student.

Yang terpenting dan perlu di pahami bahwa dengan model pembelajaran project based learning dapat meningkatkan potensi siswa. Dengan paparan materi yang disampaikan oleh Bapak Agus. Dan materi secara lengkap dapat di baca melalui handout yang di lampirkan bersama notulen ini.

Setelah penyampaian materi oleh Bapak Agus sunyoto dilanjutkan dengan paparan materi yang disampaikan oleh Ibu Cucu Sutianah, S.Pd, M.Pd tentang P5BK, IPAS, dan project kreatif kewirausahaan pada pukul 13:00 WIB setelah ishoma  materi awal tentang pengembangan P5BK dan perlunya P5BK. Mencuplik pendapat Ki Hajar Dewantoro tentang perlunya P5BK adalah perlulah anak anak [Taman Siswa] kita dekatkan hidupnya kepada perikehidupan rakyat, agar supaya mereka tidak hanya memiliki ‘pengetahuan’ saja tentang hidup rakyatnya, akan tetapi juga dapat ‘mengalaminya’ sendiri, dan kemudian tidak hidup berpisahan dengan rakyatnya.” Mengenai pengembangan P5BK Ibu Cucu menyampaikan berdasarkan panduan pengembangan Projek penguatan profil pelajar pancasila dan budaya kerja yang dikeluarkan oleh direktorat.  Berdasarkan panduan pengembangan P5BK dari direktorat di sampaikan bahwa Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Budaya Kerja adalah pembelajaran lintas disiplin ilmu untuk mengamati dan memikirkan solusi terhadap permasalahan di lingkungan sekitarnya. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Budaya Kerja menggunakan pendekatan pembelajaran berbasis projek (project based learning), yang berbeda dengan pembelajaran berbasis projek dalam program intrakurikuler di dalam kelas. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Budaya Kerja memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk belajar dalam situasi tidak formal, struktur belajar yang fleksibel, kegiatan belajar yang lebih interaktif, dan juga terlibat langsung dengan lingkungan sekitar untuk menguatkan berbagai kompetensi dalam Profil Pelajar Pancasila. Projek adalah serangkaian kegiatan untuk mencapai sebuah tujuan tertentu dengan cara menelaah suatu tema menantang. Projek didesain agar peserta didik dapat melakukan investigasi, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan. Peserta didik bekerja dalam periode yang telah ditentukan.. kemudian prinsip-prinsip kunci projek penguatan profil pelajar pancasila dan budaya kerja adalah:

1. Holistik

Holistik bermakna memandang sesuatu secara utuh dan menyeluruh, tidak parsial atau terpisah- pisah. Dalam konteks perancangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Budaya Kerja, kerangka berpikir holistik mendorong kita untuk menelaah sebuah tema secara utuh dan melihat keterhubungan dari berbagai hal untuk memahami sebuah isu secara mendalam. Oleh karenanya, setiap tema projek yang dijalankan bukan merupakan sebuah wadah tematik Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Budaya Kerja Prinsip- prinsipKunci Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Budaya Kerja yang menghimpun beragam mata pelajaran, namun lebih kepada wadah untuk meleburkan beragam perspektif dan konten pengetahuan secara terpadu. Di samping itu, cara pandang holistik juga mendorong kita untuk dapat melihat koneksi yang bermakna antar komponen dalam pelaksanaan projek, seperti peserta didik, guru, sekolah, masyarakat,

2. Kontekstual

Prinsip kontekstual berkaitan dengan upaya mendasarkan kegiatan pembelajaran pada pengalaman nyata yang dihadapi dalam keseharian. Prinsip ini mendorong guru dan peserta didik untuk dapat menjadikan lingkungan sekitar dan realitas kehidupan sehari-hari sebagai bahan utama pembelajaran. Oleh karenanya, sekolah sebagai penyelenggara kegiatan projek harus membuka ruang dan kesempatan bagi peserta didik untuk dapat mengeksplorasi berbagai hal di luar lingkup sekolah. Tema-tema projek yang disajikan sebisa mungkin dapat menyentuh persoalan lokal yang terjadi di daerah masing-masing. Dengan mendasarkan projek pada pengalaman nyata yang dihadapi dalam keseharian, diharapkan peserta didik dapat mengalami pembelajaran yang bermakna

3. Berpusat pada Peserta Didik

Prinsip berpusat pada peserta didik berkaitan dengan skema pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk menjadi subjek pembelajaran yang aktif mengelola proses belajarnya secara mandiri. Guru diharapkan dapat mengurangi peran sebagai aktor utama kegiatan belajar mengajar yang menjelaskan banyak materi dan memberikan banyak instruksi. Sebaliknya, guru sebaiknya menjadi fasilitator pembelajaran yang memberikan banyak

kesempatan bagi peserta didik untuk mengeksplorasi berbagai hal atas dorongannya sendiri. Harapannya, setiap kegiatan pembelajaran dapat mengasah kemampuan peserta didik dalam memunculkan inisiatif serta meningkatkan daya untuk menentukan pilihan dan memecahkan masalah yang dihadapinya.

4.Eksploratif

Prinsip eksploratif berkaitan dengan semangat untuk membuka ruang yang lebar bagi proses inkuiri dan pengembangan diri. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Budaya Kerja tidak berada dalam struktur intrakurikuler yang terkait dengan berbagai skema formal pengaturan mata pelajaran. Oleh karenanya projek ini memiliki area eksplorasi yang luas dari segi jangkauan materi pelajaran, alokasi waktu, dan penyesuaian dengan tujuan pembelajaran. Namun demikian, diharapkan pada perencanaan dan pelaksanaannya, guru tetap dapat merancang kegiatan projek secara sistematis dan terstruktur agar dapat memudahkan pelaksanaannya. Prinsip eksploratif juga diharapkan dapat mendorong peran Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Budaya Kerja untuk menggenapkan dan menguatkan kemampuan yang sudah peserta didik dapatkan mata pelajaran intrakurikuler. Setelah selesai menyampaikan materi tentang P5BK langsung dilanjutkan dengan  pemaparan materi tentang projek IPAS dengan nara sumber yang sama yaitu Ibu Cucu . tentang Projek IPAS Ibu cucu menyampaikan bahwa Pada Pembelajaran Program Smk Pusat Keunggulan Sebagaimana Ditetapkan Pada Kepmendikudristek No. 165/M/2021 Bahwa Terdapat Mata Pelajaran Projek Ilmu Pengetahuan Alam Dan Sosial (Projek Ipas).Mata Pelajaran Projek Ipas Berfungsi Untuk Membekali Peserta Didik Agar Mampu Menyelesaikan Permasalahan Kehidupan Nyata Sehari-Hari Sesuai Dengan Perkembangan Zaman, Berkaitan Dengan Fenomena Alam Dan Sosial Di Sekitarnya Secara Ilmiah.  Mata Pelajaran Projek Ipas Dirancang Untuk Mendukung Penguatan Konsep Dasar Dan Literasi Konsentrasi Keahlian. Pembelajaran Projek Ipas Pada Smk Pusat Keunggulan Dikemas Dalam Bentuk Projek (Project-Based Learning) Yang Mengintegrasikan Beberapa Elemen Konten/Materi Dalam Suatu Tema Dan Dilaksanakan Untuk Mencapai Elemen Kompetensi. Berbeda Dengan Pembelajaran Sebelumnya Bahwa Pembelajaran Mata Pelajari Ilmu Pengetahuan Alam (Ipa) Dan Ilmu Pengetahuan Sosial (Ips) Diajarkan Dalam Bentuk Disiplin Ilmu (Subjectmatter).

Ibu Cucu memberikan rumus bagaimana mengintegrasikan Project Based Learning dalam Mata Pelajaran IPAS Beberapa Elemen Konten/ Materi  Dalam Suatu Tema Dan  Dilaksanakan Untuk Mencapai Elemen Kompetensi. Di Dalam Satu Tema. Dapat Dibuat Beberapa Projek Sesuai dengan Keluasan Dan Kedalaman Lingkup Materi. Pada Model Project-Based-Learning (Pjbl), Peserta Didik Tidak Hanya Belajar Untuk Memahami Konten, Tetapi Juga Mengembangkan Keterampilan Menyelesaikan Masalah Yang Terjadi Di Masyarakat. Keterampilan Yang Ditumbuhkan Dalam Pjbl Di Antaranya Berkomunikasi Dan Presentasi, Mengorganisasikan Kegiatan Dan Waktu, Membuat Keputusan Secara Kreatif Dan Kritis (Critical Thinking).

Fungsi IPAS dalam model pembelajaran project based learning ( PBL ) adalah:

  1.  Projek Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (Projek IPAS) berfungsi untuk membekali peserta didik agar mampu menyelesaikan permasalahan di kehidupan nyata pada Abad 21 dan Era Society 5.0 berkaitan dengan fenomena alam dan sosial di sekitarnya secara ilmiah dengan menerapkan konsep social sains.
  2. Mata pelajaran Projek IPAS berfungsi untuk mendukung pengembangan kompetensi vokasional /life skills .
  3. Pembelajaran Projek IPAS dikemas dalam bentuk projek (Project based learning) yang mengintegrasikan beberapa elemen konten/materi dalam suatu tema dan dilaksanakan atau esensial maple untuk mencapai elemen kompetensi. Berbeda dengan pembelajaran sebelumnya bahwa pembelajaran mapel Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) diajarkan dalam bentuk konsep-konsep saja.

Kemudian Ibu Cucu menjelaskan juga tentang  CAPAIAN PEMBELAJARAN IPAS bahwa :

Pada akhir fase E, peserta didik diharapkan dapat memahami dan membuat teks informasi, mendeskripsikan kejadian dan fenomena, melaporkan percobaan, menyajikan dan mengevaluasi data, memberikan penjelasan, dan menyajikan opini atau klaim sesuai dengan lingkup rumpun bidang keahlian. Peserta didik juga dapat memahami serta membuat teks  multimedia seperti bagan, grafik, diagram, gambar, peta, animasi, dan media visual.  Peserta didik menggunakan struktur bahasa untuk menghubungkan informasi dan ide, memberikan deskripsi dan penjelasan, merumuskan hipotesis, dan mengkonstruksi argumen yangdidasarkan pada bukti-bukti sehingga dapat mengekspresikan posisinya kata terkait dengan ketujuh aspek elemen konten yang terdiri atas makhluk hidup dan lingkungannya; zat dan perubahannya; energidan perubahannya; bumi dan antariksa; keruangan dan konektivitasantar ruang dan waktu; interaksi, komunikasi, sosialisasi, institusi sosial dan dinamika sosial; serta perilaku ekonomi dan kesejahteraan sesuai dengan karakteristik rumpun bidang keahlianMengenai materi secara detail dari Ibu Cucu di hari yang kedua dapat di baca dalam handout terlampir bersama notulen ini.

  • HARI KETIGA ( 9 Desember 2021)

Workshop di hari yang ketiga diisi dengan materi GSM ( Gerakan Sekolah Menyenangkan) dengan nara sumber Ibu Cucu Sutianah, S.Pd, M.Pd. Untuk workshop hari ke tiga jumlah peserta lebih banyak karena peserta tidak hanya dari unsur guru, tetapi juga dari unsur tenaga kependidikan. Di hari ketiga workshop nara sumber membentuk kelompok dan masing-masing kelompok mengerjakan suatu tugas/projek dan setelah mengerjakan tugas/projek dalam waktu tertentu masing masing kelompok di minta presentasi. Sebelum tugas/projek di sampaikan ke peserta nara sumber menyampaikan materi tentang GSM ( Gerakan Sekolah Menyenangkan). Di awal penyampaian materi,  nara sumber menyampaikan prinsip sebuah sekolah yang ditanamkan oleh Ki hajar Dewantoro yaitu:

  1. Menuntun
  2. Menuntun segala kekuatan kodrat pada anak agar selamat, bahagia dan bermanfaat  bagi orang lain
  3. Personalized experiences, support & feedback, rewards, enthusiastic to inspire others
  4. Bertani
  5. Pendidikan adalah persemaian benih-benih talenta dan kebudayaan melalui  penciptaan ekosistem yang menyenangkan, aman, kondusif
  6. Mengajar sesuai kebutuhan anak
  7. Rekognisi passion & bakat beragam
  8. Bermain
  9. Kodrat anak adalah bermain, maka pendidikan harus menyenangkan
  10. Bermain memantik abstract thinking, problem solving
  11. Mengajarkan strategi belajar dan active learning
  12. Berhamba pada anak
  13. Mendidik berdasarkan perkembangan usia, mental anak
  14. Mengeksplorasi  DNA genetik manusia, yakni kemampuan beradaptasi, berimajinasi, berkolaborasi secara luas

Artinya bahwa ekosistem sekolah berpusat pada manusia yang beragam karena beragam sehingga sebuah sekolah harus bisa mewadahi keberagaman itu. Ekosistem sekolah merepresentasikan kehidupan nyata dimana siswa dapat mempelajari keterampilan hidup yang relevan. Sementara teknologi virtual digunakan untuk mendukung pembelajaran di dunia nyata, sehingga siswa mampu menemukan referensi yang lebih banyak. Dan selanjutnya sekolah berfungsi sebagai bengkel artinya Tempat dimana siswa dapat menemukan insting penemuan, membuat, membangun, dan menciptakan sesuatu. Dan sekolah berfungsi sebagai dapur artinya Dimana siswa dapat mencoba berbagai resep, melakukan eksperimen, tidak takut gagal, proses belajar adalah proses berulang aksi-antisipasi-refleksi.dan yang terakhir sekolah berfungsi sebagai studio musik artinya

Sekolah seperti studio musik, di dalamnya terdapat usaha, ketekunan, daya juang dengan passion untuk meraih masa depan yang lebih baik. ( materi detail tentang GSM dapat di baca dalam handout terlampir). 

  • HARI KEEMPAT ( 10 Desember 2021 )

Workshop di hari ke empat masih berlanjut dengan nara sumber Dr. Cucu Sutianah, S.Pd, M.Pd. Dan  untuk workshop hari ke empat nara sumber membentuk kelompok sesuai bidang yaitu; kelompok bidang kesiswaan, kelompok bidang kurikulum, kelompok bidang humas, kelompok guru PKK, kelompok guru P5BK, kelompok guru MPLB, kelompok guru BDP, kelompok guru AKL & PKM, kelompok guru RPL, kemudian untuk guru bahasa Indonesia, guru bahasa inggris, guru matematika, guru PPKN, dan guru PAI kondisional bisa terintegrasi ke kelompok guru kejuruan. Kemudian setelah terbentuk nara sumber minta masing-masing kelompok membuat sebuah project dan disarankan oleh nara sumber project tidak hanya selesai sampai workshop saja tetapi sampai terimplementasi yang akhirnya SMK Negeri 1 Probolinggo bisa menjadi sebuah miniatur industri sesuai dengan kebutuhan dunker ( dunia kerja). Kemudian sebelum kelompok membuat project sesuai yang ditugaskan,  nara sumber tidak lupa untuk menyampaikan materi tentang perencanaan projek dan budaya kerja. ( materi secara lengkap tentang perencanaan projek dan budaya kerja dalam di baca dalam handout terlampir)

D. PENUTUP

Setelah berakhirnya materi di hari ke empat dan pengejaan project oleh peserta, maka berakhir pula kegiatan workshop pada hari Jum’at, 10 Desember 2021 pada jam 11:00 WIB,  dan diakhiri dengan bacaan Hamdallah oleh Mc.

Leave a Reply

Your email address will not be published.